Minggu, 31 Mei 2015

RESUME PCD 21 MEI 2015




RESUME PCD
21 MEI 2015

a.         Aplikasi Pengolahan Citra Digital (Vegetasi Dan Hutan)
            Penginderaan jauh (atau disingkat inderaja) adalah pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat yang tidak secara fisik melakukan kontak dengan objek tersebut atau pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat dari jarak jauh, (misalnya dari pesawat, pesawat luar angkasa, satelit, kapal atau alat lain.
Pengolahan citra adalah salah satu cabang dari ilmu informatika. Pengolahan citra berkutat pada usaha untuk melakukan transformasi suatu citra/gambar menjadi citra lain dengan menggunakan teknik tertentu.
            Citra Landsat merupakan gambaran permukaan bumi yang diambil dari luar angkasadengan ketinggian kurang lebih 818 km dari permukaan bumi, dengan skala 1 : 250.000.Dalam setiap perekaman citra landsat mempunyai cakupan area 185 km x 185 km sehinggaaspek dari objek tertentu yang cukup luas dapat diidentifikasi tanpa menjelajah seluruh daerahyang disurvei atau yang diteliti.
            Satelit landsat memiliki dua buah sensor yaitu Multi Spectral Scanner (MSS) dan Tematic Mapper (TM). Sensor TM mempunyai resolusi sampai 30 x 30 m, dan bekerja mengumpulkan data permukaan bumi dan luas sapuan 185 km x 185 km. sedangkan resolusi radiometriknya 8 bit, yang berarti setiap pixel mempunyai nilai jangkauan data dari 0-225. Sensor TM  merupakan system yang sangat kompleks yang memerlukan toleransi (kelonggaran) pembuatan yang sangat kecil, sehingga tidak memungkinkan dibuat penyempurnaan di masa mendatang untuk memperkecil resolusi spasial sampai dibawah 20 M (Butler, S.1988). Sensor Thematic Mapper mengamati obyek-obyek di permukaan bumi dalam 7 band spektral, yaitu band 1, 2 dan 3 adalah sinar tampak (visible), band 4, 5 dan 7 adalah infra merah dekat, infra merah menengah, dan band 6 adalah infra merah termal yang mempunyai resolusi spasial 120 x 120 m. Luas liputan satuan citra adalah 175 x 185 km pada permukaan bumi. Landsat 5 mempunyai kemampuan untuk meliput daerah yang sama pada permukaan bumi pada setiap 16 hari, pada Ratnasari, 2000).
            Landsat 1, Landsat 2 dan landsat 3 mempunyai dua sensor yaitu RBV (Return Beam Vidicon) dan MSS (Multi Spectral Scanner). Landsat 4 dan 5 merupakan pengembangan sensor pada sistem Landsat sebelumnya dengan peningkatan resolusi spasial, resolusi radiometrik dan resolusi spektral. Landsat 1, 2 dan 3 membawa empat saluran sensor MSS, sedangkat Landsat 4 dan 5 membawa empat saluran sensor MSS dan sensor TM (Thematic Mapper) 7 saluran, dan ETM (Enhanced Thematic Mapper plus) (Purwadhi 2001). Pada Landsat 6 dan 7 TM ditambah lagi menjadi ETM (Enhanced Thematic Mapper) dan ETMP (Enhanced Thematic Mapper Plus).
Sensor Landsat memiliki beberapa band dengan fungsi tertentu. Karakteristik sensor Landsat adalah sebagai berikut:
a)    Satu 0,4 – 0,52 Biru Dapat menembus air dengan baik, memberikan analisis karakteristik tanah dan air. Baik untuk memetakan atau memantau daerah pesisir.
b)    Dua 0.52 – 0,64 Hijau Dapat digunakan untuk membedakan tanaman sehat dan tanaman sakit.
c)    Tiga 0,63 – 0.69 Merah Dapat membedakan vegetasi dan bukan vegetasi.
d)    Empat 0,76 – 0.9 IM dekat Membedakan tanah dengan vegetasi, tanah dengan air, menggambarkan badan air, membantu mengidentifikasi tanaman pertanian.
e)    Lima 1,55 – 1,75 IM tengah Untuk menentukan jenis tanaman, kandungan air pada tanaman dan kelembapan tanah.
f)     Enam 10,4 – 12,5 IM thermal Formasi batuan serta pemetaan hidrothermal.
g)    Tujuh 2,08 – 2,35 IM jauh Mengidentifikasi tipe-tipe vegetasi, kelembapan tanah, mengidentifikasi batuan.

b.         GIS in Agriculture
            Curran (1985) mengatakan bahwa penginderaan jauh adalah penggunaan sensor radiasi elektromagnetik untuk merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi yang berguna
a)    Dalam perencanaan citra digital dibantu dengan Citra ALOS yang digunakan untuk mempermudah proses identifikasi objek.
b)    Informasi penutupan lahan dapat dikenali secara langsung dari citra satelit, sementara informasi penggunaan lahan merupakan hasil kegiatan manusia dalam suatu lahan atau fungsi lahan, sehingga tidak selalu dapat ditafsirkan secara langsung dari citra penginderaan jauh, namun secara tidak langsung dapat dikenali dari penutupan lahannya.
Perbandingan Lahan Kering dan Basah di Citra SPOT4 di Indonesia terdapat di Kab.Jeneponto :

            Pada citra musim basah objek yang berwarna biru adalah sawah yang memiliki air, sedangkan pada citra musim kering objek sawah tidak memiliki air (warna objek kecoklatan), perubahan warna objek sawah disebabkan oleh pantulan gelombang air yang terekam oleh citra. Berikut ini rona dan warna air di citra.

            Menjelaskan daerah yang tergolong basah pada saat musim hujan, dan tergolong kering pada musim kemarau. Ada juga daerah yang tergolong basah pada saat musim kemarau, daerah ini umumnya adalah daerah yang dapat menyimpan air disaat musim kemarau, di citra satelit SPOT 4 daerah tersebut memiliki warna dan rona air.
            Teknik pengolahan citra telah banyak dipergunakan dalam bidang pertanian antara lain untuk penentuan jenis cacat biji kopi, pemeriksaan mutu pertanian karet, pemutuan buah mangga, identifikasi tingkat ketuaan dan kematangan jeruk lemon dan manggis.
Dalam perkembangannya pengolahan citra dapat digunakan dalam membedakan jenis produk karena teknologi ini memiliki kemampuan dalam menganalisis produk berdasarkan perbedaan intensitas warna.
a)    Adaptasi teknologi machine vision dan image processing dalam pertanian misalnya ditunjukkan dengan penggunaannya dalam perancangan alat Support Machine Vector yang dapat melakukan pembedaan tanaman dengan langsung dan memiliki database sehingga dapat juga membedakan beberapa jenis tanaman sekaligus (Lin, 2009)
b)    Sistem penangkap dan pengolah citra tersebut telah banyak berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi. Teknologi ini telah mencapai tingkat ketelitian yang cukup tinggi yaitu ada yang mencapai 90% lebih serta memiliki kelebihan dalam tingkat objektivitas yang stabil dan waktu pengolahan yang relatif cepat (Lin, 2009, Neto et al., 2006).
c)    penggunaan algoritma pengolahan citra digital untuk membedakan dan mengidentifikasi tanaman yang dirusak oleh hama pada tanaman jagung di Brazil (Sena Jr et al., 2003)





DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar